Tunaikan Kewajiban
dengan Landasan Ilmu.

Penghitungan zakat yang transparan berdasarkan nash Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai ijtihad empat mazhab utama.

Dasar Syariat

Landasan Hukum Zakat

Zakat bukan sekadar kedermawanan sosial, melainkan instrumen pembersihan harta dan jiwa sesuai ketetapan Allah SWT.

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka..." — QS. At-Taubah: 103

Zakat Fitrah secara spesifik diwajibkan untuk mensucikan diri setelah Ramadhan:

"Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata keji, serta sebagai makanan bagi orang miskin." — HR. Abu Daud

Perbandingan Ijtihad Mazhab

Perbedaan pendapat dalam ijtihad adalah rahmat yang memberikan kemudahan bagi umat sesuai kondisi zaman dan tempat.

Zakat Mal: Perhiasan yang dipakai rutin tidak wajib zakat. Fokus pada harta yang bersifat produktif (tumbuh).

Zakat Fitrah: Wajib berupa bahan makanan pokok (beras/gandum) seberat 1 Sha' (±2.5kg). Tidak sah dengan uang menurut pendapat kuat.

Zakat Mal: Semua emas dan perak (termasuk perhiasan simpanan atau pakai) wajib dikenakan zakat jika mencapai nisab.

Zakat Fitrah: Memperbolehkan konversi nilai makanan ke uang (Qimah) untuk memudahkan fakir miskin memenuhi kebutuhan mendesak.

Zakat Mal: Menekankan pada kepemilikan sempurna. Harta yang masih dalam sengketa atau piutang macet belum wajib zakat.

Zakat Fitrah: Menentukan 9 jenis bahan makanan pokok yang boleh dizakatkan, mulai dari gandum, kurma, hingga anggur kering.

Zakat Mal: Piutang yang lancar (diharapkan cair) wajib dizakati setiap tahun seolah-olah uang tersebut ada di tangan.

Zakat Fitrah: Waktu utama pengeluaran adalah pagi hari sebelum shalat Id, namun boleh didahulukan 1-2 hari sebelumnya.

Amanah

Penyaluran Melalui Amil Resmi

Pastikan zakat Anda dikelola oleh lembaga yang memiliki legalitas syariat dan negara.